Jumat, 16 Oktober 2009

Pengalaman Jadi Relawan di Sumbar


Misi Disaster-Aid ke Padang, 3-7 Oktober 2009

Tepat pukul 13 dengan pesawat Lion Air kami berempat bertolak dari Denpasar menuju Padang, dengan suatu tujuan memberikan apa yang kami miliki bagi masyarakat di sana. Rombongan kami terbilang cukup komplit dan solid, terdiri dari seorang dokter disaster dari Pertamina (Dr. Sundari Manoppo), dokter ahli jiwa FK. UNUD / RSUP Sanglah (Dr. Lely Setyawati, SpKJ(K).), psikolog klinik - pimpinan crisis center di berbagai wilayah tanah air sekaligus direktur nasional ROCK Radio & Televisi (Richardo Naraheda, MPsi, SFT, BTh) dan seorang Fotographer expatriate yang begitu mencintai Indonesia dan telah tinggal cukup lama di Bali (Andrew Campbell).

Kami harus transit di Jakarta dan berganti pesawat Sriwijaya Air, jalur Jakarta – Padang begitu padatnya sampai-sampai kamipun harus rela delayed sekitar 3 jam. Barang-barang bantuan yang kami bawa ternyata kelebihan 80 kg, tetapi kami bersyukur pihak LION Air membebaskan biaya tersebut, sedangkan di Sriwijaya Air kami harus membayar 25% nya. Tak masalah, kami tetap bersyukur untuk semua fasilitas ini.
Kami tiba di Padang pukul 21.50 dijemput oleh Deniz, seorang dokter muda FK. Universitas Andalas, sehingga kami terbebas dari kesulitan menyewa kendaraan yang begitu mahal serta antre bensin yang panjang.

Sekitar 1 jam lebih kami mengitari kota Padang terkesima memandang begitu banyak gedung dan rumah yang hancur, sama sekali tak menyisakan keindahan kotanya, padahal kita tahu kota Padang tergolong kota terbersih dan terindah, dan beberapa kali merebut piala Adipura.

Hari pertama kami menginap di Pastoran Gereja Xaverius yang terletak tepat di sebelah RS. Yos Sudarso, bergabung dengan Tim OKE Peduli Bangsa dan Tim Gereja Kathedral Jakarta yang kebetulan satu pesawat dengan kami dari Jakarta, sehingga menjawab doa kami agar tak terlantar selama pelayanan di Sumatra Barat.

Hari berikutnya kami membantu Deniz dan teman-temannya membersihkan rumah kontrakannya bersama teman-teman mahasiswa FK yang turut menjadi korban karena perabot rumah di dalamnya hancur terlempar dan berhamburan oleh gempa. Akhirnya rumah inilah yang kami pakai sebagai Posko hari-hari berikutnya, yang terletak di Jl. TVRI No. 8 Kompleks DPRD Tk. II Padang.

Saat menunggu di Jakarta kami juga bertemu dengan Merry, warga Padang yang sudah 3 tahun bekerja di sebuah perusahaan besi beton di Jakarta dan baru berhasil memperoleh tiket pada hari ke-3 sesudah gempa. Ayah dan ibunya menjadi korban, mereka luka-luka dan patah tulang dan dirawat di RS. Rumah mereka hancur rata dengan tanah, sehingga adik-adiknya terpaksa tinggal di Rumah Sakit sekaligus menjaga orang-tua mereka. Merry juga tak tahu akan pulang ke rumah siapa di Padang nanti, yang jelas dia minta diantar ke RS. Tentara Padang. Tak ada mobil yang menjemputnya, karena menurut saudaranya tidak ada bensin dalam tanki mobilnya, pompa bensin sangat padat antreannya, sementara harga bensin di kios Rp 20.000,-/liter, jadi dia menumpang kendaraan yang menjemput kami.

Hari kedua di Padang kami bersiap-siap mengunjungi Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung Sicincin, di kabupaten Padang Pariaman. Alamat ini kami dapat dari rekan-rekan yang bertugas di Posko Gempa Bandara Soekarno-Hatta, yang begitu sedih menceritakan bahwa bantuan yang begitu melimpah dari para dermawan belum menyentuh kampung halamannya. Kami memilih Dusun Kiambang, Nagari Pakanbaru. Wilayah ini sebenarnya terletak tak jauh dari kota Padang, tapi karena jalan rusak dan macet kami harus menempuhnya dalam 3 jam. Benar, penduduk di sana mengatakan tak ada bantuan sepotongpun yang masuk ke wilayah mereka, termasuk petugas Puskesmas. Mereka bisa memaklumi hal ini karena korban begitu banyak.

Ada 70 pasien yang kami layani di sini, kasus terbanyak adalah penyakit saluran pernafasan dan penyakit persendian, setelah 5 hari mereka harus tinggal di udara terbuka. Ada 10 kasus cemas dan stress pasca trauma yang kami dapati di sini.
Upaya pengobatan, pemulihan dan terapi suportif segera kami lakukan, menguatkan hati mereka dan berusaha berkoordinasi dengan pihak-pihak lain yang terkait agar memasukkan wilayah ini ke data penerima bantuan. Beberapa alat permainan edukatif yang kami keluarkan mampu membuat mereka tersenyum bahkan tertawa bersama-sama anak-anak yang begitu lugu dan tak mengerti mengapa rumah mereka hancur dan rata dengan tanah.

Hari berikutnya kami mengunjungi Dusun Duku, Desa Padang Sago, Kecamatan Sungai Limau, Kab Padang Pariaman. Ada 170 pasien di sini, dengan lebih dari 30 pasien cemas dan depresi. Kasus terbanyak di desa ini adalah gangguan persendian, disusul oleh penyakit akibat cemas dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder, atau Gangguan Stres Pasca Trauma). Penyakit saluran pernafasan menduduki urutan ke-3. Untungnya stok obat-obatan kami cukup banyak, sehingga mereka bisa terlayani dengan baik. Obat-obatan anti cemas, anti depresi juga benar-benar dibutuhkan di sini karena rata-rata sekitar 47% dari mereka menderita trauma psikologis yang sangat berpengaruh pada kesehatan fisik mereka.

Permainan yang kami persiapkan untuk terapi traumatik yang mereka alami rupanya memperoleh respon yang tinggi, bukan saja anak-anak, tetapi juga kalangan muda dan ibu-ibu. Kami merasa sangat bersyukur mereka bisa tertawa lepas saat melemparkan bola dan menjawab berbagai pertanyaan yang sengaja dilontarkan sebagai sarana terapi.

Hari keempat adalah hari yang sangat berkesan bagi tim kami, tujuan kali ini adalah kabupaten Agam. Melalui Dinas Sosial kabupaten kami memperoleh suatu lokasi yang belum pernah terjangkau oleh bantuan pemerintah: Dusun Simaruwok, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung. Rumah-rumah mereka hancur berantakan, bahkan rata dengan tanah, padahal sarana transportasi ke desa ini begitu sulitnya. Untuk mencapai desa ini kami melewati sebuah jembatan gantung sepanjang +/- 50 meter. Kendaraan kami tinggalkan di tempat yang aman dan penduduk setempat menjemput kami dengan sepeda motor mereka, mengangkut kami dan berbagai perlengkapan serta obat-obatan yang kami bawa. Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengharukan. Begitu antusiasnya mereka menyambut kami dan mempersiapkan tempat pelayanan di teras sebuah masjid yang cukup kuat (tidak roboh oleh gempa).

Meskipun pelayanan sempat tertunda beberapa kali akibat hujan dan kendaraan yang lewat, penduduk dengan sabar menanti untuk berkonsultasi dan meminta pengobatan. Sekitar jam 9 malam barulah seluruh pelayanan selesai. Kami menghitung jumlah kunjungan hari itu, fantastis…111 orang telah terlayani. Selain obat-obatan, anak-anak di dusun Simaruwok juga ikut merasakan betapa rasa sedih mereka bisa tersalur melalui berbagai media permainan dan buku yang sengaja kami bawa untuk mereka. Kasus terbanyak di tempat ini adalah berbagai penyakit persendian akibat cemas pasca trauma. Di dusun ini kami juga mendapati seorang istri yang menderita gangguan jiwa berat (psikosis) setelah menyadari rumah dan harta-bendanya hancur.

Malam itu kami kembali ke Lubuk Basung dan tinggal di sebuah homestay guna meluruskan punggung dan kaki yang terasa cukup lelah.

Hari terakhir kami putuskan untuk kembali ke Dusun Kiambang, Nagari Pakanbaru di Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung Sicincin, Padang Pariaman karena kami teringat pada beberapa pasien yang telah memperoleh jahitan di Puskesmas tetapi belum sempat kontrol kembali dan hari ini mereka harus buka jahitan. Kebetulan kami bertemu dengan tim Puskesmas Keliling sehingga kami menyerahkan sebagian stok obat-obatan yang kami miliki agar bisa dimanfaatkan di wilayah ini.

Tepat pukul 12 kami kembali ke kota Padang, karena sorenya kami harus kembali ke Denpasar. Banyak hal menarik yang kami ambil hikmahnya, termasuk saat tim kami mulai merasa kelelahan menangani begitu banyak pasien. Kasus-kasus stres pasca trauma harus direspon dengan baik agar benar-benar sembuh dan tidak meninggalkan kecacadan di kemudian hari. Terlebih ada cukup banyak anak-anak yang turut menjadi korban.

Ada terbersit rasa bahagia saat melihat mereka yang tadinya datang dengan wajah muram mau tersenyum kembali, walau hanya sekejap. Masih banyak dusun yang belum terlayani, juga belum sempat menerima apa-apa dari setumpuk bantuan yang diberikan oleh para donatur. Alamat mereka kami tinggalkan pada rekan-rekan yang datang berikutnya. Mudah-mudahan mereka bisa tersenyum kembali.

Padang, 8 Oktober 2009
Lely & kawan-kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar