Senin, 26 April 2010

Mengaktivasi Otak Tengah? Pikirkan dulu Bahayanya!

* Sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan
bahwa otak tengah dapat diaktifkan untuk meningkatkan kecerdasan
manusia, apalagi meng-upgrade nya menjadi jenius.

* Induksi lateralisasi aktifitas otak tengah menurut sebuah tulisan
ilmiah tahun 2005 malahan dapat mengakibatkan mental stress (tekanan
mental) dan berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama
jantung dan kematian mendadak (sudden death).

Tulisan : Lely Setyawati Kurniawan*
* Psikiater, Staf Dosen di Bagian Psikiatri FK. Udayana/RSUP Sanglah
Denpasar, konsultan Forensik Psikiatri.


Pendahuluan

Perdebatan mengenai otak tengah; perlu tidaknya otak tengah
tersebut diaktifkan; terus terjadi. Masyarakat makin memahami
pentingnya menyeimbangkan kedua belahan otak kanan dan kiri, karena
masing-masing belahan tersebut memiliki beragam fungsi yang saling
mengisi dalam perjalanan panjang kehidupan seorang manusia.
Ironisnya seolah belum puas dengan kekayaan kedua belahan otak kita,
sekelompok ilmuwan mulai mengotak-atik dan mencari bagian lain, yang
dinamakan otak tengah. Mereka mencari tahu apakah dengan mengaktivasi
otak tengah kecerdasan seseorang akan makin bertambah, atau mengubah
mereka menjadi jenius, serta memiliki berbagai kecerdasan lain yang
supra-natural?
Di kalangan medis otak tengah ini dikenal sebagai bagian dari
otak manusia yang memiliki fungsi sangat vital, misalnya sebagai pusat
pengendali jantung, pembuluh darah, pernafasan, * refleks-refleks, dan
masih banyak lagi. Berbagai tulisan ilmiah mengenai otak tengah ini
bisa kita baca dalam berbagai tulisan sepuluh tahun terakhir.
Sayangnya sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang
berani menyatakan bahwa aktivasi otak tengah berhubungan dengan
kecerdasan seseorang, apalagi membuat IQ seseorang meloncat jauh
melebihi IQ manusia pada umumnya, atau dikenal dengan istilah jenius.
Dahulu orang berpikir bahwa kecerdasan identik dengan IQ,
meskipun mereka mengetahui dalam test IQ yang diukur hanyalah
kecerdasan seseorang di bidang matematika, linguistik dan sedikit
visuo-spatial.
Saat ini wawasan kita mulai terbuka, melalui hasil penelitian Prof
Gardner di tahun 1980an diketahui bahwa ada delapan jenis kecerdasan
yang berbeda yang bisa dimiliki oleh masing-masing kita dalam porsi
yang berbeda. Masing-masing kecerdasan tersebut menempati area yang
berbeda di sisi kiri dan kanan otak kita. Kecerdasan yang bervariasi
ini disebut Kecerdasan Multipel (Multiple Intelligence).
Sehubungan dengan otak tengah tadi, muncul pertanyaan, adakah
hubungan antara kecerdasan ini dengan fungsi otak tengah / mid brain
seseorang? Benarkah aktivasi otak tengah membuat seseorang makin
cerdas dan jenius, karena memiliki kemampuan supra-natural?

Anatomi dan Fungsi Otak

Pada saat lahir seorang anak memiliki 100 miliar sel otak yang
disebut sel neuron - jumlah ini sama dengan banyaknya bintang di
galaksi Bima Sakti – serta 1 Triliun sel glia, yang berfungsi sebagai
sel pelindung bagi sel-sel otak tadi. Pembentukan sel-sel otak ini
dimulai sejak minggu ketiga sel sperma membuahi sel telur, dengan
kecepatan tumbuh 250 ribu sel/menit. Pada minggu kesepuluh sel-sel
otak menjadi makin sibuk mempersiapkan diri agar bisa mulai menerima
stimulus / rangsangan dari luar.
Saat usia 3 tahun telah terbentuk 1000 triliun jaringan koneksi /
sinapsis, jumlah ini ternyata 2 kali jumlah jaringan orang dewasa.
Satu sel otak mampu menjalin 15 ribu koneksi dengan sel lain, jaringan
yang sering digunakan akan semakin kuat dan permanen, tetapi yang
jarang digunakan akan mati.
Otak manusia dibagi menjadi enam divisi utama, yaitu Serebrum,
Diensefalon (kedua bagian ini sering disebut sebagai Forebrain /
Pro-ensefalon), Serebelum, Midbrain (Mesencephalon), Pons dan Medula
Oblongata. Tiga bagian terakhir ini disebut brain stem atau batang
otak.
Midbrain (Mesensefalon) terdiri dari superior colliculi dan inferior
colliculi. Superior colliculi merupakan pusat refleks gerakan kepala
dan bola mata ketika berespon terhadap rangsang visual, sedangkan
inferior colliculi merupakan pusat refleks gerakan kepala dan tubuh
ketika berespon terhadap rangsang suara.

Menjadi Jenius?
Nah dikaitkan dengan janji, cukup dengan mengaktifkan otak tengah
(mesensefalon) mampu membuat seorang manusia menjadi jenius; Apakah
definisi jenius? Range IQ normal adalah 90 – 110. Dengan IQ normal
seorang anak bisa tamat SMA, sebagian bahkan tamat S1. Di atas angka
tersebut seseorang disebut Superior, di atasnya lagi adalah Very
Superior, dan jika IQ nya lebih dari 180 orang akan disebut jenius.
Seringkali peringkat IQ bisa membuat anak stres, padahal IQ tak bisa
mengukur kecerdasan emosional (EQ) seseorang.
Anak-anak yang sulit konsentrasi seringkali membuat kewalahan
para orang-tua dan guru. Orang-tua dan guru menduga anak tersebut
bodoh karena nilai akademik di sekolah sangat kurang, padahal bisa
saja mereka ini sebenarnya memiliki kecerdasan yang baik, tetapi
rentang waktu perhatian mereka sangat pendek.
Rentang waktu perhatian ideal anak usia 5 tahun hanya berkisar 5
menit saja, sedangkan anak-anak usia 15 tahun berkisar 15 menit. Untuk
membuat mereka bertahan lebih lama, para pendidik diharapkan mampu
menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Hal ini
haruslah dilakukan secara berkala saat konsentrasi dan perhatian
anak-anak mulai menurun.
Dalam keadaan tertentu seperti takut, sedih akibat depresi dan
berbagai stres / tekanan mental lainnya seseorang menjadi kehilangan
daya konsentrasi, Orang-tua biasanya membawa anak-anak tersebut untuk
berkonsultasi dengan psikiater ataupun psikolog dengan keluhan
kesulitan belajar dan menurunnya prestasi akademik.
Sebenarnya peranan orang-tua sangat besar untuk proses belajar
seorang anak, apa yang orang-tua pikirkan, katakan dan lakukan akan
terus melekat dalam benak anak-anak, mempengaruhi suasana dan
kenyamanan belajar mereka dan mempengaruhi jalan hidup serta masa
depan mereka. Anak-anak bisa mengalami kebahagiaan, atau sebaliknya
depresi - sama seperti orang dewasa yang lain - karena perkataan dan
tindakan orang-tua mereka.

Mengaktivasi Otak
Ada cukup banyak cara yang biasa dipakai untuk mengaktivasi otak,
misalnya dengan alunan musik klasik (yang paling poluler karya-karya
Mozart), lagu-lagu / instrumentalia tertentu, gerakan-gerakan tubuh,
menciptakan suasana tertentu, bermain dengan angka-angka, menambahkan
berbagai bahan chemical, dan masih banyak cara lainnya. Banyak
institusi menawarkan berbagai pelatihan yang menjanjikan untuk
meningkatkan IQ tersebut, dengan memasukkan berbagai metode yang
diyakini dapat menghilangkan tekanan mental para peserta selanjutnya
mempermudah pengaktifan bagian-bagian tertentu otaknya.
Beberapa ilmuwan mencoba mempelajari tentang otak tengah / mid
brain. Harapan mereka sesudah penemuan yang mencengangkan tentang kiri
dan kanan, sekaranglah saatnya mengungkap fenomena tentang otak
tengah. Metode yang digunakan bukan sekedar cara-cara klasik seperti
yang kita kenal di atas, karena program neuro-linguistik (NLP) mereka
sisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu
keadaan extra sensory perception (ESP).
Suasana dibuat sedemikian rupa agar semua peserta yang ada di ruangan
tersebut memasuki Alpha State, suatu fase dimana gelombang lambat di
otak manusia, yang membuat seseorang mudah dipengaruhi dan diisi oleh
berbagai hal oleh para instruktur. Metode yang cukup popular dikenal
saat ini adalah BFR (blindfold reading).
Sebagai informasi, di Rusia diperlukan waktu satu tahun bagi seorang
siswa untuk mampu melakukan aksi blindfold. Di Jepang, sedikitnya
perlu waktu tiga bulan untuk melakukannya. Ajaibnya di Indonesia
suatu perusahaan pelatihan menyatakan hanya perlu waktu 12 jam untuk
membuat anak-anak jenius!
Aktivasi dianggap berhasil apabila mereka berhasil mengenali
berbagai macam benda dan halangan di sekitarnya dalam keadaan mata
ditutup. Dengan demikian anak-anak tersebut akan mampu membaca,
menggambar, menghitung, berlari dan menghindari semua rintangan tanpa
menggunakan indera penglihatan mereka yaitu mata.
Bahkan mereka berani menjanjikan, anak-anak akan memiliki kemampuan
tembus pandang, menyusun kartu remi secara urut tanpa melihat, dapat
membaca suatu dokumen rahasia di balik tembok, menghitung uang yang
ada dalam dompet di saku baju seseorang, merangkum seluruh isi
textbook dalam waktu singkat, memprediksi hal-hal buruk yang bakal
terjadi esok, bahkan membaca pikiran orang-orang yang ada di
sekelilingnya agar tak mudah tertipu.
Hal itu bagi mereka dianggap sebagai talenta manusia baru di jaman
modern ini, karena memiliki kecerdasan tersendiri (jenius) dengan
kemampuan extra sensory perception (ESP), sehingga nantinya kita tak
lagi tertarik menonton acara pertandingan sulap The Master.
Pandangan di atas tentu tidak begitu saja dapat dibenarkan,
karena secara medis kita bisa mengenali fungsi fisiologi seluruh organ
dalam tubuh kita. Mengaktifkan dan menciptakan seseorang untuk
memperoleh pengalaman extra sensory perception sudah jauh melenceng
dari ranah medis fisiologis.
Bahkan hal ini erat kaitannya dengan terjadinya berbagai gangguan
mental pada manusia, yang salah satu gejalanya adalah mampu
mendengar, melihat, merasakan dan membaca hal-hal yang tidak bisa
didengar, dilihat, dirasakan dan dibaca oleh orang-orang sehat
lainnya. Sebagai contoh pada kasus-kasus Skizofrenia pasien merasa
yakin dengan kemampuannya membaca isi hati dan pikiran orang-orang
lain di sekelilingnya, serta meyakini berbagai penglihatan dan
pendengaran gaib yang bisa membuat orang lain berdiri bulu kuduknya.
Sampai hari ini belum ada satupun publikasi yang menyatakan
bahwa otak tengah dapat diaktifkan untuk meningkatkan kecerdasan
manusia, apalagi meng-upgrade nya menjadi jenius. Musa A. Haxiu &
Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian midbrain pada 24
ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi midbrain di daerah
periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot
polos pernafasan menjadi relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan
hewan-hewan tersebut.
Ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh suatu lembaga yang
memiliki ide penelitian sebelum dilemparkan dan dimanfaatkan untuk
kepentingan publik. Minimal telah melalui 10 tahun percobaan di
laboratorium (in vivo), setelah lulus uji klinis, barulah diujikan
pada hewan-hewan percobaan dengan evaluasi sekitar 10 tahun. Pada
tahap ketiga barulah diujikan pada para relawan (biasanya mereka
dibayar) dan kembali dilakukan evaluasi. Dengan demikian dibutuhkan
waktu sekitar 30 tahun untuk membawa suatu metode baru yang aman dalam
masyarakat.
Menurut Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa
hal yang berubah karena aktivasi midbrain, misalnya tekanan arteri
utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood
flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan
daerah bawah jantung (Inferior cardiac), per-syaraf-an simpatis dan
denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru
turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun.
Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa
mencapai 328%.

Peranan orang-tua
Seringkali orang-tua terlalu sibuk sehingga tidak punya cukup
waktu untuk memperhatikan buah hati mereka. Waktu 24 jam sehari terasa
kurang, karena saat anak-anak berangkat sekolah pagi-pagi orang-tua
tak bisa bangun dan mengantar mereka, mereka baru pulang kembali ke
rumahnya pada malam hari sesudah anak-anak tertidur. Sebagai
pembenaran diri sendiri para orang-tua sering berkilah, bahwa kualitas
pertemuan mereka dengan anak-anak jauh lebih penting daripada
kuantitas waktu. Benarkah?
Sebuah intitusi bahkan berani menjanjikan bahwa dengan
menyisihkan waktu 15-30 menit saja selama 20-30 hari untuk membantu
anak-anak berlatih sama artinya dengan mendampingi mereka seumur hidup
hingga usia 18 tahun. Semudah itukah hubungan orang-tua dengan anak
terjalin? Cukupkah waktu yang hanya 15-30 menit tadi untuk berdiskusi,
saling curhat, atau sekedar bermain bersama dan bercanda?
Hubungan orang-tua dan anak tidak bisa dibatasi seperti halnya
sebuah mata pelajaran di sekolah. Memang ikatan emosional diantara
mereka akan sangat menentukan kualitas hubungan yang terjalin.
Idealnya orang-tua memiliki waktu yang tak terbatas untuk
anak-anaknya, demi sebuah proses kematangan dan kemandirian. Bahkan
saat anak-anak beranjak dewasa dan menikah seringkali mereka masih
ingin duduk bermanja-manja dengan orang-tuanya. Saat mereka menghadapi
berbagai permasalahan hidup salah satu tempat yang nyaman untuk
berbagi adalah orang-tua mereka.

Target dan evaluasi pembuktian kejeniusan sesudah aktivasi otak tengah

Sesudah melalui program latihan ini anak-anak akan mempunyi
kemampuan untuk melihat dengan sentuhan (skin vision). Sebagian anak
lainnya yang telah teraktifasi otak tengahnya mampu melihat kartu
secara detail dengan penciuman atau pendengarannya. Sebagian lainnya
mengatakan mereka mampu melihat, menulis, membaca, dan mewarnai di
dalam kegelapan total. Selain itu mereka juga akan memiliki Loving
Inteligence. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang
lain seperti sang pencipta.
Bagaimana dengan harapan orang-tua yang telah mengirim dan
membayar biaya yang cukup tinggi demi mengikutkan anak-anak mereka
dalam pelatihan ini? Setelah sekian bulan tentu saja para orang-tua
berharap anak-anak mereka akan memiliki prestasi akademik yang lebih
baik. Secara teoritis, nilai sekolah seharusnya meningkat, karena
selepas aktifasi otak tengah tersebut, memori dan konsentrasi akan
meningkat dan cukup banyak potensi penting dalam diri anak yang akan
dibangkitkan. Namun kenyataannya tidaklah sesederhana itu karena
peningkatan kemampuan akademis ternyata tidak sesederhana yang
dibayangkan.
Penelitian Bjorn H. Schott, Constanze I Seidenbecher dkk. (2006)
menyatakan bahwa pada manusia, memory seseorang dipengaruhi oleh
banyak faktor, jadi tidak sama dengan binatang. Telah dilakukan
pembuktian secara anatomi dan behavior dengan mempergunakan alat MRI,
diperoleh hasil yang tidak signifikan. Yang membedakan memori adalah
faktor genetik (kromosome 17q11 dan 7q36), hal ini dikenal sebagai
polymorphisme dopamine pada kromosom.
Hal ini yang tentunya menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi
masyarakat, karena sebelumnya orang-tua begitu antusias mengharapkan
anaknya akan berubah menjadi anak-anak yang jenius dan memiliki banyak
kemampuan lebih sesudah mengikuti program pelatihan otak tengah ini,
lagipula orang-tua telah mengeluarkan sejumlah besar biaya.
Menurut Bjorn H. Schott, Daniela B. Sellner dkk. (2004) terdapat
hubungan erat antara formasi memori di hipokampus dan neuro-modulasi
dopaminergik, terutama di Ventral Tegmental Area (VTA) dan medial
Substansia Nigra midbrain. Teknik yang dipakai untuk mengaktivasi otak
disesuaikan dengan lokasi, memakai kata-kata yang menyenangkan,
hitungan-hitungan silabus, dan sebagainya. Namun aktivasi tersebut
tidak relevan dengan tugas-tugas yang harus dipelajari.
Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita
terperangah, karena ternyata induksi lateralisasi aktifitas midbrain
dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan
memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death).
Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik
persyarafan jantung.

Perlukah aktivasi otak tengah?

Orangtua perlu menghargai setiap talenta yang dimiliki
anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas.
Kecerdasan ini tidak bisa disamakan dengan IQ, karena saat ini kita
telah mengenal delapan macam kecerdasan, yang dikenal sebagai multiple
intelligence yang ada dalam diri manusia. Mereka yang tidak bisa
matematika dan IQ nya rendah bukan berarti tidak cerdas, karena
mungkin saja mereka memiliki kecerdasan inter personal yang baik.
Suatu tantangan bagi para orangtua dan kita semua yang memiliki
anak, mampukah kita menghasilkan anak-anak yang bukan sekedar CERDAS,
tetapi juga BAIK dan BERMORAL? Cerdas bahkan genius saja belumlah
cukup. Karena dengan kecerdasan saja tidak menjamin mereka membuat
dunia ini menjadi lebih baik. Banyak orang-orang cerdas justru
mencelakai orang lain, memanipulasi suatu keadaan demi keuntungan
dirinya sendiri.
Mengapa dalam waktu 12 jam pelatihan atau satu setengah hari
saja anak-anak tersebut bisa berubah? Salah satunya adalah kenyataan
bahwa anak-anak dengan perilaku bermasalah sebenarnya membutuhkan
perhatian dari orangtua mereka. Dalam program pelatihan midbrain
tersebut semua orangtua diharapkan memperhatikan anaknya, mau melatih
kembali anak-anak tersebut di rumah, termasuk setelah latihan selesai.
Yang terjadi di sini sebenarnya adalah anak-anak tersebut dilatih
untuk peka terhadap berbagai bahaya dan rintangan yang ada di depan,
serta ‘dipaksa untuk bersikap dan berperilaku lebih baik’ karena
mereka telah diberikan teladan yang baik oleh orangtua dan orang-orang
dewasa di sekelilingnya.

Penutup

Yang terjadi pada anak-anak tersebut sebenarnya bukan JENIUS
(memiliki IQ yang sangat tinggi atau di atas 140), melainkan latihan
untuk suatu kewaspadaan (AWARENESS) terhadap apapun yang ada di
sekeliling mereka.
Kondisi semacam ini perlu kita cermati lebih baik, mengingat kondisi
awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai
gangguan jiwa, dari gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas
Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.
Itulah sebabnya orangtua diminta waspada dan berhati-hati sebelum
mengirim anak-anak mereka ke suatu institusi yang menawarkan sanggup
mengubah anak-anak menjadi jenius dalam waktu singkat.
Orangtua perlu menghargai setiap talenta yang dimiliki
anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas. Suatu
tantangan bagi para orangtua dan kita semua yang memiliki anak,
mampukah kita menghasilkan anak-anak yang bukan sekedar CERDAS, tetapi
juga BAIK dan BERMORAL? Cerdas bahkan genius saja belumlah cukup.
Karena dengan kecerdasan saja tidak menjamin mereka membuat dunia ini
menjadi lebih baik. Banyak orang-orang cerdas justru mencelakai orang
lain, memanipulasi suatu keadaan demi keuntungan dirinya sendiri.

Daftar Pustaka
1. Adi W. Gunawan, Apakah IQ Anak bisa ditingkatkan, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 2005.
2. Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto, Activation of the midbrain
periaqueductal gray induced airway smooth muscle relaxation, J. Appl.
Physiol 93:440-449, 2002.
3. Scott R. Wersinger & Michael J. Braun, Sexually dimorphic
activation of midbrain tyrosine hydroxylase neurons after
mating/exposure to chemosensory cues in the ferret, Biology of
Reproduction 56, 1407-1414, 1997.
4. Bjorn H. Scott, Constanze I Seidenbecher, et al: The dopaminergic
midbrain participation in human episodic memory formation: Evidence
from genetic imaging, The Journal of Neuroscience, February 1, 2006
– 26(5): 1407-1417.
5. Bjorn H. Schott, Daniela B. Sellner, et al, Activation of midbrain
structures by associative novelty and the formation of explicit memory
in humans, Learn. Mem. 2004 – 11: 383-387.
6. Hugo D. Critchley, Peter Taggart, et al, Mental stress and sudden
death: asymetric midbrain activity as a linking mechanism, J. Brain
2005, 128, 75-85.
7. Chao Guo, Hai Yan Qiu, et al, Lmx1b-controlled Isthmic organizer is
essential for development of midbrain dopaminergic neurons, The
Journal of neuroscience, Dec 24, 2008 – 28(52): 14097-14106.
8. Peter D. Larsen, Sheng Zhong, Gerard L. Gebber & Susan M. Barman,
Symphatetic nerve & cardiovascular responses to chemical activation of
midbrain defense region, Am. J. Physiol Regulatory Integrative Comp.
Physiol 280: R1704 – R1712, 2001.

19 komentar:

  1. Tulisan ini patut jadi pertimbangan utk mengirim anak ke institusi aktivasi otak tengah, bukannya jenius yg didapat malah anak jadi depresi. Karena program aktivasi ini masih baru di Indonesia, maka kita blm tahu dampak jangka panjang terhadap si anak. Dalam bbrp artikel dikatakan bhw aktivasi tsb akan hilang tanpa pelatihan tiap hari, mungkin apabila si anak menunjukkan kelainan, maka latihan kita stop, tapi mungkin dampak psikologisnya tidak semudah itu dapat dihilangkan. Si institusi harusnya punya bukti otentik IQ sebelum dan sesudah aktivasi menunjukkan perbaikan yg nyata. Jika ada pengalaman pengalaman berkaitan dgn hal aktivasi otak tengah, boleh di share utk awareness kita semua. Terima kasih Bu Lely tulisan yg sangat berharga ini.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas posting ini. Ternyata saya tidak sendirian, bersikap ekstra hati-hati (kalau tidak bisa dibilang curiga) terhadap segala sesuatu yang serba instan, khususnya terhadap tindakan 'merekayasa' otak manusia - anak-anak kita. Saya kira Tuhan menganugerahi kita semua kemampuan alamiah sejak lahir seperti yang kita miliki tentunya dalam kebijakan Ilahi. Di banyak situasi, manusialah yang seringkali memanfaatkan kecerdasannya secara tidak bijak dan melupakan hal-hal mendasar yang perlu kita pegang erat sebagai mahluk ciptaannya...

    BalasHapus
  3. Anak saya mengikuti program aktifasi otak tengah sejak november, tahun lalu, sejauh pemantauan saya hanya efek positif yg kami dapatkan, dlm pelajaran setelah kurang lebih 1 bulan kelihatan peningkatannya, konsentrasi dan daya tangkapnya jg meningkat,ada seorg guru yg tadinya dia tidak suka di sekolah karena dia tidak dpt mengerti yg diajarkan oleh guru itu, skg dia bilang guru itu jd enak mengajarnya, padahal saya tanya kepada teman2 anak saya, apakah ada yang berubah dari cara pengajaran guru itu, mereka bilang sama saja. dalam segi karakter,tadinya anak saya sangat emosional,klo dia marah dia akan banting2 barang yg ada didekatnya, tp sekarang saya lihat emosinya sangat stabil,dan dia jauh lebih pengertian dalam banyak hal, memang teori ibu diatas quite knowledgeble, tp sebelum mengirim anak2 saya ke institusi tersebut saya sudah cek dan browsing untuk mencari apabila ada keluhan negatif mengenai program ini dan sy tdk menemukan apapun, padahal program ini sudah ada sejak lebih dari 5 thn yang lalu.sekilas pengalaman saya dgn program ini.

    BalasHapus
  4. bu Rina, kalo cuman pingin anaknya bisa tenang & semua guru / pelajaran kelihatan menyenangkan ( ilusinya ), dateng aja ke ahli hipnosis, pasti hasilnya sama / lebih bagus karena kita bisa ikut mensuggesti si anak dengan seijin ahli hipnosisnya. Dengan begitu ibu tidak rugi biayanya yang jauh lebih murah dari 3,5 juta di gmc itu yah?

    BalasHapus
  5. Terimakasih Bu Lely Jadi Pemicu untuk meneliti dan Menggali lebih dalam.
    Saya jadi ingat sejarah NLP dan Hipno di dunia Akademis, banyak yang mengkritisi dan Menolak. tetapi merasakan dan mengakui bahkan memakai.

    Saya awalnya ikut belajar dan Mengembangkan bagaimana Mengaktivasi Otak tengah.

    Selanjutnya setelah meneliti dan mengembangkan Metodenya ini, belajar dari metode di Jepang dan Tibet.kita kembangkan Whole Brain Stimulation, Bukan hanya Otak Tengah Tetapi keseluruhan. dengan target Bukan membuat anak jadi jenius ( IQ diatas 180 )dalam beberapa jam.

    tetapi meningkat :
    -Atensi
    -Memory
    -language
    -dan Kemampuan eksekutif nya


    Karena Metode ini menggabungkan Ilmu NLP dan Neurologi.

    Ada Ratusan level dalam Terapi dan Alat Audio dan Video yang sedang saya teliti, jadi tidak hanya sekedar entertaint atau malah di tuduh Mistis atau Supranatural

    Kritik saran untuk pengembangan

    Junni
    http://www.ibs.or.id

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Saya mencermati tulisan ini, penulis mengatakan bahwa aktivasi otak tengah bertujuan meningkatkan IQ dengan luar biasa. Aktivasi otak tengah hanya untuk meningkatkan IQ, dengan mengesampingkan EQ. -> Benarkah???
    “Mengaktifkan dan menciptakan seseorang untuk memperoleh pengalaman extra sensory perception sudah jauh melenceng dari ranah medis fisiologis.” -> bgmn dg cerita orang buta dan tuli tetapi ahli memanah pada jaman nabi Muhammad?, bagaimana dengan Helen Keller?, bagaimana dengan sistem sonar pada lumba-lumba?
    “... mampu mendengar, melihat, merasakan dan membaca hal-hal yang tidak bisa didengar, dilihat, dirasakan dan dibaca... ... kasus Skizofrenia pasien merasa yakin mampu membaca isi hati dan pikiran orang lain, yakin penglihatan dan pendengaran gaib ....” -> apakah begini patogenesis terjadinya skizofrenia, dimulai dari kemampuan mendengar/melihat/merasakan hal-hal yang orang sehat tidak bisa? Atau, apakah pada orang skizofrenia otak tengah mereka teraktivasi?
    “Bryan K. Yamamoto (2002) ... justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan menjadi relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.” -> setelah saya baca artikelnya tidak ada yang menyatakan bahwa karena relaksasi otot maka pernapasannya menjadi terganggu. Malah berpengaruh baik pada asma. (The bronchodilation and
    withdrawal of cholinergic outflow that were observed after administration of morphine or morphinelike substances (12) may also be evoked by way of the vl PAGand GABA-containing neurons that project to AVPNs. Alteration in this pathway may be an important central component of exercise or emotional stress-related deterioration of airway functions, particularly in asthmatic subjects.)
    “Minimal telah melalui 10 tahun percobaan di laboratorium (in vivo)” -> bukankah ini seharusnya in vitro? (In vivo = dalam mahluk hidup)
    “Sebuah intitusi bahkan berani menjanjikan bahwa dengan menyisihkan waktu 15-30 menit saja selama 20-30 hari untuk membantu anak-anak berlatih sama artinya dengan mendampingi mereka seumur hidup hingga usia 18 tahun.” -> apakah benar seperti ini yang dikatakan oleh mereka?
    “Yang terjadi di sini sebenarnya adalah anak-anak tersebut dilatih untuk peka terhadap berbagai bahaya dan rintangan yang ada di depan, serta ‘dipaksa untuk bersikap dan berperilaku lebih baik’ karena mereka telah diberikan teladan yang baik oleh orangtua dan orang-orang dewasa di sekelilingnya.” -> Memang seharusnya kan seperti yang penulis katakan ini, anak “dipaksa” untuk bersikap dan berperilaku lebih baik dengan teladan yang baik dari orang tua dan lingkungan sekitarnya.

    Namun demikian tetap saya haturkan terima kasih atas tulisan bu Lely ini, paling tidak memberi kewaspadaan kepada kita mengenai hal yang baru di Indonesia: "aktivasi otak tengah". Sekian.

    BalasHapus
  8. Mohon dibaca thread ini sebagai informasi: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4804278
    Semoga kita bisa lebih berhati-hati...

    BalasHapus
  9. masa atau fase anak yang hilang disaat pertumbuhan si anak, dipastikan akan muncul diusia beikutnya, entah di usia berapa.karena pada hakekatnya perkembangan atau pertumbuhan anak, adalah serangkaian dari masa atau fase" kehidupan yang tidak bisa dihilangkan, hanya sangat mungkin terlewati atau sengaja dilewati. Begitu kata dosen pengampu mata kuliah, perkembangan peserta didik saya beberapa tahun lalu. Dewasa ini banyak sekali anak yang menjadi korban dari opsesi atau impian para orang tuanya, yang kadang kita lupakan adalah, anak sudah diciptakan dan disediakan 'jalan' oleh -Nya. Biarkan anak" kita tumbuh dan berkembang seperi fitrahnya dengan bekal yang terbaik yang kita miliki. memberikan bekal terbaik, bukan berarti memaksakan anak menjadi seperti apa yang kita inginkan. waallah huallam.

    BalasHapus
  10. Saya melihat yang sama dengan apa yang ditulisa oleh Ruds diatas. Terjadi banyak celah dalam penulisan ini, data2 tidak jelas.

    Saya sendiri ga paham betul tentang otak tengah ini, entah baik atau buruk. Tapi ketika ada sikap waspada dan kritis tolong disampaikan dengan baik dan benar, tidak sepotong-sepotong seperti tulisan ini. Jika memang anda mau meyakinkan pembaca dengan penulisan data dan pengetahuan ilmiah, kualitas tulisan ini jauh dari ilmiah dan meyakinkan...

    Saya pribadi percaya bahwa "rahasia terbesar manusia adalah manusia itu sendiri" jadi ketika ada hal2 yang "tidak biasa" mohon ditanggapi dengan bijak dan cerdas.

    Saya masih cukup bersabar dengan tidak menuduh anda sengaja menulis untuk menjelek2an pihak tertentu. Pesan saya, tolong sampaikan kritisi anda dengan layak, cerdas dan bertanggung jawab.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  11. Terimaksh posring yg bagus skali...
    sebagai orang yang peduli dg pendidikan , wajib kiranya hal ini kt pahami dan sampaikan ke yg lain. Agar orangtua paham dan tidak mudah terpengaruh dg hal-hak yang serba menggiurkan dengan "instan".
    Salam kenal

    BalasHapus
  12. • Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan bahwa seorang anak biasa mengalami perubahan emosional pada usia akil baliq (remaja), hal ini disebabkan karena hilangnya kemampuan berpikir berdasarkan naluri pada anak yang memberikan rasa aman, nyaman dan digantikan dengan kemampuan berpikir menurut logika. Hal ini menyebabkan timbulnya sikap menentang dan sikap-sikap melawan lingkungan demi mencari jati diri yang lain yang biasa kita saksikan, dan periodenya berbeda-beda untuk tiap anak, dan hal ini memang mereka butuhkan demi perkembangan mereka, kemampuan naluri yang memberikan rasa aman hilang digantikan kemampuan berpikir logis. Apakah mungkin kemampuan berpikir naluri ini diperoleh dari otak tengah dan harus hilang setelah anak menginjak remaja? Apabila benar, berarti otak tengah memang tidak boleh diaktifkan karena pasti akan mengganggu siklus perkembangan yang lain.Mohon tanggapan ibu,demi perkembangan anak2 kita. Terimakasih

    BalasHapus
  13. Pelatihan otak tengah nonsense, Allah sudah membuat perangkat inisesempurna-sempurnya,lha kok ada orang yang berani menyatakan bahwa otak tengah kita belum diaktifkan, perlu diaktivasi melalui sebuah training/pelatihan. Keblinger ini Allah sudah mengatur sirkulasi kematangan otak dengan daur kehidupannya, Allah sudah memformat dan meendisain otak berkembang secara alami, lha kok ada orang yang berani mengatur perkembangannya secara instan. Kalau memang aktivasi otak tengah dibutuhkan, mengapa anak-anak se dunia tidak diaktifkan saja semuanya melalui paltihan yang terukur secara Nasional diselurh sekolah TK atau SD.keblinger ini orang-orang penemumid brain aktivity, mengecilkan arti Tuhan,mengecilkan arti pengembangan otak secara evolusi/bertahap. Sebab statementnya menyatakan anak-anak akan lebih beradab, bermoral, berakhlak, jenius bila ikut pelatihan ini,itu berarti sekarangini semua anak yang tidak ikut pelatihan dalam kondisi kebodohan, kurang ajar dan tidak berakhlaq. wah...wah...wah dunia makin edan, menghina guru ngaji,menghinaguru disekolah, menghina semua pendidik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ana sependapat dengan sampean .
      fakta yang terjadi dewasa ini menunjukan semakin maraknya metode2 yang membuat / mengajak kita untuk melupakan ketergantungan kita kepada Allah SWT , Na’udzubillahimindzalik .

      Hapus
    2. Biarlah semua berkembang secara bertahap, Allah telah menciptakan manusia dengan tujuan yang mulia. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan dengan penciptaan-Nya.

      Hapus
    3. kowkowkowkowwowokwokwo ngaco ahhh .............. religius dibawa , klau mau tuh orang mabuk dijalan benerin otaknya konslet ........ apakah si otak orang mabuk berkembang secara alami .............? kowkowkwowokwo ente bahlul

      Hapus